17 Oktober 2026
Bal’am bin Ba’ura dan Para Penyihir Fir’aun
01 Oktober 2023
SU'UL KHATIMAH MANTAN SANTRI
1 Oktober...
Sungguh Hidayah Allaah Itu Sangat Mahal
Namanya AHMAD AIDIT. Dia tinggal di Belitung. Ayahnya seorang ulama yang disegani di kampungnya. Pendiri sebuah sekolahan Muhammadiyah di Belitung. Ayahnya asli Minangkabau yang terkenal taat beragama.
Sewaktu kecil, Aidit rajin mengaji. Suaranya yang bagus dan lantang, menyebabkan ia sering disuruh mengumandangkan adzan. Saat itu belum ada TOA. Sehingga suaranya yang lantang diandalkan untuk memanggil orang-orang untuk shalat berjamaah.
14 Juli 2023
Kisah Barshisha, Ahli Ibadah yang Akhirnya Sujud Kepada Setan
Ibnu Jarir menceritakan, telah menceritakan kepadaku Yahya bin Ibrahim Al-Mas’udi, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari bapaknya, dari kakeknya, dari Al-A’masy, dari ‘Umarah, dari ‘Abdurrahman bin Yazid, dari ‘Abdullah bin Mas’ud mengenai ayat,
كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ, فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا ۚوَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ
“(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam”. Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hasyr: 16-17)
Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa ada seorang wanita menjadi pengembala kambing dan ia memiliki empat orang saudara.
10 Juli 2023
Benarkah Muharram adalah Bulan Sial?
Mitos Seputar Bulan Muharram
12 September 2019
Kenangan Masa Kecil B.J. Habibie di Barru
18 Mei 2019
Sirah Nabawiyah 4: Asal-usul Kota Mekkah (2/2)
16 Mei 2019
Sirah Nabawiyah 3: Asal-usul Kota Mekkah (1/2)
Inilah Ulama yang Dikriminalisasi Penguasa
Dalam dinamika sejarah, kriminalisasi ulama bukanlah hal baru. Ada banyak ulama yang demi kebenaran, berani mengkritik penguasa. Mereka ini ulama-ulama lurus yang tidak silau dengan iming-iming penguasa dan kepentingan duniawi. Yang benar akan dikatakan benar; dan yang salah akan dikatakan salah. Hadits nabi mengenai keutamaan jihad kepada penguasa yang lalim dan tiran dipegang dengan baik oleh mereka. Akibat dari keteguhan ini, mereka bisa mengalami kriminalisasi dan penyiksaan.
03 Mei 2019
Sirah Nabawiyah 2: Sirah Nabi Adalah Mukjizat
Sirah Nabawiyah 1: Mempelajari Sirah Nabi Adalah Bagian dari Agama
Sesungguhnya mempelajari sirah Nabi ﷺ merupakan bagian dari agama ini. Karenanya salaf terdahulu, mereka memiliki ihtimām (perhatian besar) di dalam mempelajari sirah Nabi ﷺ. Dan banyak nukilan-nukilan dari mereka yang menunjukkan betapa besar perhatian mereka terhadap sejarah Nabi ﷺ.
29 April 2019
Sejarah Penamaan Bulan Ramadhan
Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
22 April 2019
Ada Ulama Dibalik Cinta Kartini Kepada Al-Qur'an
Hari itu, Raden Ajeng Kartini menghadiri pengajian di Pendopo Bupati Demak yang tidak lain adalah pendopo milik pamannya, Raden Mas Adipati Ario Adiningrat . Yang menjadi pemateri dalam pengajian sederhana tersebut adalah Muhammad Shaleh bin Umar dari Darat, Semarang. Lebih dikenal dengan nama Shaleh Darat. Seorang ulama yang pernah menimba ilmu di Tanah Haram, Mekkah Al-Mukarramah.
12 Desember 2014
Heroisme Sang Mujahid Agung
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillah, alhamdulillah, walhamdulillah. Allah Ta’ala memiliki banyak cara untuk membela hamba-Nya. Ketika manusia (seindonesia) berkonspirasi untuk menghancurkan nama baik dan kehormatan Al Ustadz Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo rahimahullah; maka Dia memiliki cara-Nya untuk memuliakan beliau. Melalui buku “Hari Terakhir Kartosoewirjo” yang ditulis oleh Fadli Zon; melalui pameran foto-foto seputar eksekusi beliau pada tahun 1962; melalui bedah buku dan seterusnya; alhamdulillah akhirnya terkuaklah banyak fakta sejarah yang selama ini disembunyikan.
Sebagian besar manusia (Muslim) di Indonesia selama ini berprasangka buruk terhadap sosok almarhum SM. Kartosoewirjo. Mereka melontarkan tuduhan-tuduhan tak berdasar. Alhamdulillah, dengan segala pertolongan Allah banyak sisi suram “cerita sejarah” itu yang harus dihapus, diganti kisah lain yang lebih benar dan tidak dusta. Tampaknya bangsa Indonesia harus menulis ulang ulasan sejarahnya seputar sosok SM. Kartosoewirjo dan gerakan Daarul Islam-nya.
Berikut ini poin-poin apresiasi dan analisis yang bisa kami sampaikan, terkait pengungkapan 81 foto-foto eksklusif yang semula merupakan rahasia negara itu. Bentuk apresiasi ini adalah upaya nyata untuk mulai menulis sejarah tokoh Islam dengan cara pandang yang benar; meskipun musuh-musuh Islam alergi terhadapnya. Kalau mereka alergi, setidaknya kita perlu berkata jujur kepada kaum Muslimin dan kemanusiaan manusia di dunia.
[1]. Imam SM. Kartosoewirjo ternyata adalah pribadi yang sederhana, biasa, tidak berbeda dengan manusia-manusia Indonesia yang lain. Ada yang mengatakan, sosoknya seperti petani. Begitu pula, keluarga beliau juga sederhana, termasuk istri dan anak-anaknya. Namun harus diakui, beliau adalah sosok pemimpin revolusi Islam terbesar di Indonesia. Gerakan Daarul Islam (DI) merupakan gerakan politik-militer yang paling luas pengaruhnya. Ia berpengaruh di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimatan Selatan, hingga Nusa Tenggara. Dibandingkan gerakan PKI, ia hanya dominan di Jakarta dan Jawa Timur saja. PRRI/Permesta hanya di Sumatera Barat, RMS hanya di Maluku, dan seterusnya.
[2]. Sampai akhir hidupnya, SM. Kartosoewirjo konsisten dengan garis perjuangannya. Beliau membela perjuangannya, sampai di depan regu tembak. Hal ini mengingatkan kepada tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin yang pada tahun 60-an banyak dieksekusi mati oleh rezim Gamal Abdul Naser. Imam Daarul Islam itu tidak pernah mundur dari sikapnya dan bersedia mempertanggung-jawabkan perjuangannya sampai titik darah penghabisan. Ketika diputuskan dia harus divonis mati, pihak pengadilan menawarkan dirinya untuk pergi kemana saja, sekali pun ke Amerika; selagi tidak ada urusan politik. Namun beliau menolak, karena yang dia inginkan adalah: segera bertemu Allah untuk memastikan apakah perjuangannya benar atau salah? Lihatlah manusia yang fisiknya tampak ringkih ini; dia sangat kuat dalam memegang prinsip dan tidak menyesal. Berbeda dengan umumnya aktivis-aktivis Islam yang semula idealis, lalu perlahan-lahan menjadi pragmatis dan menjual agama dengan harga murah. Nas’alullah al ‘afiyah.
[3]. Dalam kapasitasnya sebagai “musuh negara” yang dianggap paling berbahaya; ternyata SM. Kartosoewirjo tampak dihormati, dihargai, dan dimuliakan oleh orang-orang yang berurusan dengan eksekusinya. Mereka tampak hening, berdiri rapi, penuh khidmat memberikan penghormatan terakhir. Setelah wafat, beliau dimandikan dengan air laut, lalu dishalatkan dan dimakamkan secara Islami. Bahkan sejak diantar ke Pulau Ubi, beliau diperlakukan secara baik. Hal ini menandakan, bahwa orang-orang yang berurusan dengan eksekusinya tidak yakin sepenuhnya, bahwa beliau salah. Kalau mau jujur, SM. Kartosoewirjo adalah “anak kandung” dari TNI (dulu BKR atau TKR). Beliau itu semula berada dalam barisan TNI, berjuang menjaga wilayah Jawa Barat.
[4]. Dalam segala kesederhanaannya, ternyata kharisma SM. Kartosoewirjo sangat menakutkan bagi rezim yang berkuasa (Orde Lama dan Orde Baru). Mereka begitu ketakutan, sehingga harus menyembunyikan dimana lokasi eksekusi; apakah di Pulau Onrust atau di atas kapal laut? Bahkan di Pulau Onrust, mereka buat dua pusara palsu, dengan label “makam Kartosoewirjo”. Sebegitu takutnya mereka, sehingga harus membuat sandiwara-sandiwara seperti itu. Bahkan Pulau Ubi dimana eksekusi diadakan dan pusara SM Kartosoewirjo ada disana; pulau itu kalau laut saat pasang, tidak akan tampak di permukaan. Masya Allah, sebegitu takutnya musuh-musuh politik Imam Darul Islam itu; mungkin mereka nyadar, kalau dirinya memang salah.
[5]. SM. Kartosoewirjo rahimahullah dituduh dengan 3 perkara, yaitu: a. Beliau melakukan pemberontakan; b. Beliau berniat membunuh Presiden Soekarno; c. Beliau ingin lepas dari Indonesia. Atas tuduhan ini, beliau akui tuduhan pertama, dan beliau tolak dua tuduhan terakhir. Dengan demikian, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa gerakan Daarul Islam bertujuan separatisme (memisahkan diri dari NKRI). Daarul Islam tetap dalam lingkup keindonesiaan dan tidak ingin memisahkan diri dari NKRI. Kalau mau dikembangkan secara politik; mestinya DI/TII jangan dituduh sebagai pemberontak; tapi anggaplah ia sebagai aspirasi politik sebagian kaum Muslimin yang menuntut otonomi, untuk mengatur wilayahnya dengan sistem Islam. Kalau daerah lain ingin memakai sistem sekuler atau non Islami, ya itu silakan saja. Hanya saja, berikan otonomi kepada Daarul Islam untuk mengatur wilayahnya dengan sistem Islami. Bukankah dalam sistem federasi hal semacam itu memungkinkan terjadi? Atau setidaknya dalam bentuk otonomi khusus.
[6]. SM. Kartosoewirjo dihukum mati berdasarkan keputusan pengadilan, yang dikukuhkan oleh persetujuan Presiden Soekarno. Soekarno sendiri sejatinya adalah mantan teman beliau, sebagai sesama murid HOS. Cokroaminoto di Surabaya. Bagi Soekarno, mengenyahkan kawan lamanya adalah keutamaan, meskipun yang bersangkutan berjuang demi Islam.
[7]. Sebelum dieksekusi mati, SM. Kartosoewirjo mengajukan 4 tuntutan, dan hanya tuntutan terakhir yang dipenuhi. Pertama, beliau ingin bertemu dengan para perwira bawahannya; Kedua, beliau ingin agar eksekusinya disaksikan pengikutnya atau keluarganya; Ketiga, beliau ingin jenazahnya diserahkan kepada keluarganya; Keempat, beliau ingin bertemu keluarganya, untuk terakhir kalinya. Ternyata, hanya tuntutan terakhir yang dipenuhi. Beliau sudah tua dan lemah; beliau sudah sedia dihukum mati; beliau tidak menuntut ingin kesana-kemari; tetapi itu pun beliau masih dizhalimi dengan tidak dipenuhi hak-haknya sebagai manusia yang wajar. Sekedar dimakamkan oleh keluarganya saja, tuntutan itu ditolak.
[8]. Bisa jadi keputusan Pemerintah RI untuk menghukum mati SM. Kartosoewirjo dianggap benar (menurut hukum positif dan vonis pengadilan). Tetapi mengapa di luar itu semua, SM. Kartosoewirjo masih dizhalimi sedemikian rupa? Tuntutan beliau yang manusiawi tidak dipenuhi; makamnya disamarkan di Pulau Onrust; dan dibuat catatan-catatan sejarah bohong seputar dirinya? Bukankah hal ini merupakan kezhaliman besar atas diri beliau? Akhirnya, kezhaliman itu terbongkar sudah, dengan dimuatnya foto-foto eksklusif seputar eksekusi Imam Daarul Islam. Ibarat menyembunyikan bau busuk, lama-lama akan tercium juga.
[9]. SM. Kartosoewirjo rahimahullah tidaklah ingin membubarkan NKRI, tidak ingin keluar dari Indonesia, atau ingin men-Daarul Islam-kan Indonesia. Tidak demikian. Beliau itu ingin menegakkan pemerintahan otonom berdasarkan Islam. Jika pemerintahan itu tegak, ia tetap berada dalam cakupan NKRI; hanya saja memiliki otonomi untuk membangun wilayah dengan nilai-nilai Islam. Hal ini bukan tanpa alasan. Alasannya ialah lemahnya bargaining Soekarno-Hatta di mata Belanda (NICA). Mereka mau menanda-tangani perjanjian Renville dan KMB (Konferensi Meja Bundar) yang isinya amat sangat melukai hati bangsa Indonesia. Melalui Renville, wilayah RI hanya seputaran Yogya saja; selebihnya wilayah RIS. Pasukan TNI harus ditarik ke Yogya semua, sehingga hal itu membuka peluang bagi NICA untuk menguasai wilayah-wilayah di luar RI. Melalui KMB, bangsa Indonesia harus mengakui bahwa kemerdekaan RI merupakan hasil pengakuan dari Belanda; padahal RI merdeka setelah berhasil mengusir Jepang dari Tanah Air. Belanda sejak awal tahun 1940-an sudah diusir dari Indonesia oleh Jepang. Di sisi lain, RI harus menerima beban hutang Belanda akibat terlibat dalam Perang Dunia II dan perang-perang lainnya. Beban hutang ini tidak pernah disampaikan oleh para sejarawan. Ekonom UGM, Revrisond Baswir sering menyinggung posisi hutang peninggalan KMB ini. SM. Kartosoewirjo tidak mau menerima semua perjanjian yang merusak bangsa dan negara itu. Tetapi beliau lalu disudutkan sebagai “pemberontak”. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
[10]. Di balik pendirian Daarul Islam, ada satu SPIRIT yang tidak dipahami bangsa Indonesia, sejak dulu sampai kini. Akibat tidak dipahami masalah ini, akibatnya sangat fatal. Bahwa sejak awal, SM. Kartosoewirjo amat sangat membenci sikap tunduk kepada penjajah; beliau tidak mau menyerahkan wilayah walau sejengkal saja kepada penjajah. Beliau tidak mau dihina, karena harus “merdeka lewat pengakuan Belanda”. Wong, sudah merdeka sendiri kok, masih harus membutuhkan pengakuan Belanda? Beliau anti menanggung hutang-hutang Belanda, karena itu sama dengan memikulkan hutan orang kafir ke punggung anak-cucu sendiri. Tetapi tabiat beliau berbeda dengan Soekarno-Hatta yang dididik oleh pendidikan penjajah di negeri Belanda sana. Beliau tidak mau tunduk kepada penjajah, sedangkan Soekarno-Hatta suka dengan penjajahan (dalam model berbeda). Akhirnya kini bangsa Indonesia di zaman Reformasi (tahun 2012) ini bisa melihat, siapa yang lebih benar sikap politiknya; Soekarno-Hatta atau SM. Kartosoewirjo? Di zaman ketika kini bangsa Indonesia sudah dijajah di berbagai sektor oleh negara-negara asing ini, mestinya kita harus menangisi hasil perjanjian Renville dan KMB. Dua perjanjian laknat itulah yang menghantarkan bangsa Indonesia kini kehilangan hakikat kemerdekaan, setelah sebelumnya merasakan kemerdekaan.
[11]. Banyak orang bertanya-tanya: “Siapakah yang menyerahkan foto-foto eksklusif itu kepada Fadli Zon? Siapa dia? Bagaimana ceritanya? Dan mengapa dia lakukan tindakan itu?” Saudaraku, kita tidak tahu apa alasan hakiki si pemberi (penjual) foto itu. Tapi kita yakin, dia pernah secara langsung atau tidak berhubungan dengan orang-orang yang menjadi saksi eksekusi pada tanggal 5 september 1962 itu. Dia mungkin punya hubungan dengan kameramen yang membuat foto-foto itu; atau dia berhubungan dengan pusat penyimpanan dokumentasi negara; atau dia pernah secara mujur menemukan foto-foto itu berserakan sebagai barang tak berguna, lalu dia lihat dan amati nilai historisnya, lalu disimpannya. Yang jelas, sumber foto itu sangat ingin memberi tahu bangsa Indonesia sejarah yang jujur tentang eksekusi SM. Kartosoewirjo dan kebenaran seputarnya. Hal ini tentu karena ia telah digerakkan oleh Allah Ta’ala untuk mengungkapkan sejarah yang sebenarnya. Begitu gelisahnya sumber foto itu mendengar sejarah yang palsu dan penuh racun; sehingga menjadi tugas kemanusiaan baginya, untuk mengungkap fakta sebenarnya. Khusus bagi Bang Fadli Zon, beliau juga layak diberi pujian, apresiasi, dan penghargaan atas pengungkapan fakta-fakta itu. Semoga Allah Ta’ala memberi mereka balasan pahala sesuai kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. Amin Allahumma amin.
Namun pujian dan apresiasi ini tidak berlaku bagi gerakan sempalan NII yang faksinya bermacam-macam, lalu muaranya ke Ma’had Al Zaytun di Indramayu, yang dipimpin oleh Abu Toto (Syech Panji Gumilang) itu. NII model begini adalah termasuk aliran sesat-menyesatkan yang dibentuk oleh infiltrasi penguasa, melalui tangan Ali Mutopo dan Pitut Soeharto. Apa yang kita apresiasi ialah gerakan Daarul Islam asli, di bawah pimpinan Al Ustadz SM. Kartosoewirjo rahimahullah, yang berdiri tegak di atas missi politik Islami, latar belakang sejarah, serta spirit anti penjajahan.
Sebagai penutup tulisan ini, dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman: “Wa tu’izzu man tasya’u wa tudhillu man tasya’u, bi yadikal khair innaka ‘ala kulli syai’in qadiir” (dan Engkau -ya Allah- memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki; di Tangan-Mu segala hakikat kebaikan, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu). [Surat Ali Imran].
Demikianlah, manusia-manusia jahat bermaksud menodai dan merusak kehormatan SM. Kartosoewirjo rahimahullah; namun Allah dengan segala cara-Nya hendak memuliakan hamba-Nya. Dia adalah Sang Mujahid Agung, sosok kesatria yang rela mati sampai titik darah penghabisan, demi membela cita-cita politik Islami. Bangsa Mesir memiliki mujahid Sayyid Quthb rahimahullah; bangsa Libia memiliki Umar Mukhtar rahimahullah; bangsa Rusia memiliki Imam Syamil rahimahullah; bangsa Palestina memiliki Syaikh Ahmad Yasin dan Syaikh Izzudiin Al Qasam rahimahullah; bangsa Pakistan memiliki Presiden Ziaul Haq rahimahullah; bangsa Turki memiliki Najmuddin Erbakan rahimahullah; bangsa Suriah memiliki Ustadz Marwan Hadid rahimahullah; maka kaum Muslimin Indonesia memiliki sosok Mujahid Agung: Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo rahimahullah.
SM. Kartosoewirjo adalah sosok komandan militer, imam, sekaligus ideolog Daarul Islam yang tiada duanya di dunia Islam. Nyaris tidak dijumpai perjuangan dengan konsep Daarul Islam di masa lalu, di negeri-negeri Muslim lain, selain hanya di Indonesia. Pemimpin-pemimpin Ikhwanul Muslimin di Mesir, secara akidah mereka sepakat dengan konsep Daarul Islam; tetapi secara perjuangan militer, mereka belum sampai kesana. Ingatlah keistimewaan ini wahai Muslimin Nusantara!
Semoga sekilas tulisan ini bermanfaat dan menjadi refleksi iman dan sejarah, bagi kita semua. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.
Jakarta,
AM. Waskito.
Sumber: http://m.eramuslim.com/fokus/heroisme-sang-mujahid-agung.htm
04 Desember 2014
Mereka Datang Sebelum Columbus
Sejarah Perayaan Natal 25 Desember
pertama kali yang ingin saya tekankan jika perayaan 25 Desember itu berasal dari perayaan kaum pagan Roma Kuno (Romana), bukan Yunani (Greek). Jerusalem dan sekitarnya di masa sebelum dan setelah Nabi Isa a.s lahir berada di bawah kekuasaan kerajaan Romawi.
Bangsa Romawi ketika itu memeluk agama pagan dengan memuja dewa-dewi yang jumlahnya sangat banyak dan terkenal sangat mengumbar kesenangan ragawi. Mereka menganggap raga yang sempurna, kecantikan lahiriah, sangat penting dan kenikmatan ragawi merupakan kenikmatan yang harus dikejar selama-lamanya. Sebab itu, lelaki Roma sangat gandrung pada olahraga yang bisa membentuk kekuatan fisik, memperbesar otot-otot badannya, dan juga merawat seluruh tubuhnya. Sekarang, kebiasaan lelaki Roma ini diwarisi oleh apa yang disebut sebagai Pria Metroseksual.
Sedangkan perempuan Roma, juga sangat memelihara tubuhnya dan sisi sensualitasnya. Mereka akan sangat bangga jika dikejar-kejar banyak pria. Bahkan bukan rahasia lagi jika perempuan Roma saat itu belomba-lomba untuk dijadikan “piala bergilir” para lelaki Roma. Tanggal 14 Februari selalu ditunggu-tunggu oleh mereka untuk memuaskan hasrat rendahnya dengan menggelar pesta syahwat di seluruh kota. Inilah yang sekarang dirayakan banyak orang sebagai Hari Valentine, yang sesungguhnya berasal dari Hari Perayaan Perzinahan.
Keyakinan inti pagan Roma itu berasal dari dua sumber, yakni tradisi Osirian Mesir kuno dan ilmu-ilmu sihir Babylonia. Keduanya bergabung dan sekarang dikenal sebagai Kabbalah. Mereka memiliki hari-hari istimewa yang dirayakan setiap tahun, termasuk tanggal 25 Desember yang dirayakan sebagai Hari Kelahiran anak Dewa Matahari atau Sol Invictus. Sebagian ahli menganggap istilah “Anak Dewa Matahari” itu dinisbatkan pula kepada Namrudz, Raja Babylonia, yang mengejar-ngejar Nabi Ibrahim a.s.
Mereka percaya, anak Dewa Matahari ini lahir di hari Minggu. Sebab itu mereka menamakan hari Mingu sebagai Sun Day, Hari Matahari. Mereka juga beribadat di hari tersebut. Semua ini diadopsi kekristenan sampai sekarang.
Hari Natal memiliki arti sebagai Hari Kelahiran. Hanya Gereja Barat yang merayakan Natal pada tanggal 25 Desember, sedangkan Gereja Timur tidak mengakui Natal pada 25 Desember tersebut. Lucunya, di tahun 1994, Paus Yohanes Paulus II sendiri telah mengumumkan kepada umatnya jika Yesus sebenarnya tidak dilahirkan pada 25 Desember. Tanggal itu dipilih karena merupakan perayaan tengah-musim dingin kaum pagan. Saat itu umat Katolik gempar, padahal banyak sejarawan telah menyatakan jika 25 Desember tersebut sebenarnya merupakan tanggal kelahiran banyak dewa pagan seperti Osiris, Attis, Tammuz, Adonis, Dionisius, dan lain-lain.
Kisah yang sesungguhnya tentang hari Natal bisa kita cari di internet, antaa lain tulisan yang dibuat oleh Pastor Herbert W. Amstrong, sejarawan Kristen yang menentang banyak hal tentang Natal pada tanggal 25 Desember. Yang banyak orang tidak mengetahui, keseluruhan dasar bangunan kekristenan sekarang ini sesungguhnya dibangun atas kerangka dasar ritus pembaharuan Osirian di Mesir kuno. Beberapa di antaranya adalah:
Pertama, Yesus dianggap anak Allah, ini sama dengan keyakinan kultus Dionisius yang sudah ada berabad sebelum Yesus lahir.
Kedua, Yesus dilahirkan di kandang, ini sama seperti kisah Horus yang lahir di kuil-kandang Dewi Isis.
Ketiga, Yesus mengubah air menjadi anggur dalam perkawinan di Qana, ini sama seperti apa yang dilakukan Dionisius.
Keempat, Yesus membangkitkan orang dari kematian dan menyembuhkan si buta, ini sama seperti Dewa Aesculapius;
Kelima, Yesus diyakini bangkit dari kematian di makam batu, sama seperti Mithra.
Keenam, Yesus mengadakan perjamuan terakhir dengan roti dan anggur di mana sampai sekarang ritual ini masih tetap berjalan di gereja-gereja, padahal ritual roti dan anggur merupakan simbolisasi penting dalam tradisi Osirian, dan juga hampir semua ritual pagan yang memuja Dewa Yang Mati seperti halnya pemuja Dionisius dan Tammuz;
Ketujuh, Yesus menyebut dirinya penggembala yang baik, ini meniru peran Tammuz, yang berabad sebelumnya telah dikenal sebagai Dewa Penggembala;
Kedelapan, Istilah ‘The Christ’ pada awal kekristenan tertulis ‘Christos’, sering tertukar dengan kata lain dalam bahasa Yunani, Chrestos, yang berarti baik hati atau lembut. Sejumlah manuskrip Injil berbahasa Yunani dari masa awal malah menggunakan kata Chrestos di tempat yang seharusnya ditulis dengan Christos. Orang-orang di masa itu sudah lazim mengenal Chrestos sebagai salah satu julukan Isis. Sebuah inskripsi di Delos bertuliskan Chreste Isis.
Kesembilan, dalam Injil Yohanes 12: 24, Yesus mengatakan, “Seandainya biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika dia mati ia akan menghasilkan banyak buah”. Perumpamaan dan konsep ini jelas berasal dari konsep ritual Osirian;
Kesepuluh, dalam Injil Yohanes 14:2 Yesus mengatakan, “Di rumah bapakku banyak tempat tinggal.” Ini benar-benar berasal dari Osiris dan dicopy-paste dari Book of the Dead, Kitab Orang Mati Mesir Kuno yang dipercaya disimpan di kota kematian, Hamunaptra. Ini baru sebagian contoh.
Simbol Salib yang dipergunakan oleh kekristenan dahulu hingga sekarang (juga Katolik) jelas-jelas merupakan simbol Osirian kuno. Bahkan Kristen Koptik di Mesir mengambil simbol Ankh, salib Osiris dalam bentuk asli, sebagai simbol gerakannya. Masih banyak lagi kesamaan konsep kekristenan dengan agama-agama pagan Mesir Kuno, seperti dalam kebangkitan Yesus dari kematiannya, sosok Maria Magdalena dan perannya bersama Yesus, ritus pembaptisan oleh Yohanes, dan sebagainya.
Nah, sekarang merupakan fakta jika dunia kekristenan telah menghegemoni kebudayaan dunia, termasuk di Indonesia, diakui atau tidak. Sesungguhnya, yang menghegemoni dunia saat ini adalah kebudayaan yang berangkat dari keyakinan Kabbalah.
Sumber: eramuslim.com
BACA JUGA
HUKUM HIPNOTIS UNTUK PENGOBATAN
Pertanyaan: Apa hukumnya hipnotis? dimana dengan kemampuan hipnotis tersebut, pelakunya dapat menerawangkan fikiran korban, lalu...
-
Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istriku sekarang di a...
-
Pertanyaan: Apakah ada anjuran untuk bergembira ketika datang ramadhan? adakah hadis yang menunjukkan keutamaan bergembira ketika ...
-
Masyhur, tak selamanya jadi jaminan. Begitulah yang terjadi pada “doa berbuka puasa”. Doa yang selama ini terkenal di masyarakat, belum...
POPULER PEKAN INI
-
Oleh : K.H. Riyadh Rosyadi Pendahuluan: Meluruskan Persoalan Terminologi Dalam pembahasan mengenai pengobatan dengan Al-Qur’an, muncul sebua...
-
Sempat baca cerita KKN di desa penari yang sedang viral, menurut saya ada kemungkinan kisah itu benar. Tapi yang menjadi pertanyaan, ...
-
Pertanyaan: Aslmalkm, Kalo mau datang ramadhan, doanya apa? Kasih teks arabnya ya.. Thnk’s Wass..wr. wb. Jawaban: Wa alaikumus...


.jpeg)









