Sumber : muslim.or.id
Bismillah. Segala puji bagi Allah Ta’ala, selawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mengajarkan kita -melalui petunjuk Rabb-nya- prinsip-prinsip kehidupan untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Di antara ajaran mulia tersebut adalah anjuran untuk mempelajari dan mengambil ibrah dari faidah kisah-kisah di dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah kisah Bal’am bin Ba’ura dan para penyihir Fir’aun.
Saudaraku, mari kita mulai dengan menelaah dua kisah hamba Allah Ta’ala yang sangat kontras: ada seorang alim yang doanya selalu dikabulkan, yang hafal dan memahami kitab-kitab Allah, bahkan dikenal memiliki kedudukan spiritual yang tinggi. Masyarakat menghormatinya, dan namanya harum di mana-mana. Di sisi lain, ada pula sekelompok tukang sihir yang hidup dalam kekufuran, menghabiskan hari-hari mereka dengan mempelajari ilmu hitam untuk melawan para Nabi. Siapa yang lebih berpeluang selamat di akhirat? Logika kita mungkin akan menjawab sang alim. Namun, takdir Allah Ta’ala seringkali berada di luar dugaan manusia.
Kisah Bal’am bin Ba’ura dan para penyihir Fir’aun yang diabadikan dalam Al-Qur’an menyajikan pelajaran yang sangat mencengangkan. Sang alim yang penuh ilmu justru tersesat dan berakhir dalam kesesatan, sementara para tukang sihir yang awalnya kafir justru mendapatkan hidayah dan mati dalam keadaan syahid. Sungguh, ini adalah bukti nyata bahwa kesalehan lahiriah tidak ada artinya sama sekali jika batin dan hati telah rusak. Hati adalah raja, dan anggota badan adalah pengikutnya. Mari kita renungkan dua kisah ini dengan seksama.
