Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar (penyembuh) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. Al-Israa : 82).
Akhirnya setelah memberikan tazkiyah kepada pasien-pasien yang saya tangani, saya kemudian membantu menangani pasien gadis kecil tersebut. saat itu dia hanya menangis sambil mencoba meronta. Mungkin dia merasa takut melihat ondisi sekitarnya, atau merasa takut pada kami yang baru dia lihat. Saya mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur'an padanya. dia terus menangis dan meronta, bahkan sesekali dia mencoba merebut mushaf Al-Qur'an yang saya pegang.
Beberapa lama saya membacakan ayat-ayat Ruqyah kepadanya, dan reaksi yang dia tunjukkan hanya menangis dan meronta. akhirnya saya mencoba mengorek beberapa informasi tentang dia melalui keluarganya. Ternyata yang membawanya itu bukanlah orang tua kandungnya. mereka hanya paman dan bibinya. adapun orang tua kandungnya, Ibunya telah meninggal dunia saat melahirkan dia. Sedangkan ayahnya telah menikah lagi dan saat ini tinggal di Kota Batam. saya kemudian hanya memberi beberapa nasihat kepada keluarganya dan menyarankan agar dia dimandikan dengan air bekas wudhu Ayahnya, karena saya khawatir gangguan yang dia alami adalah karena 'ain dari kerinduan ayahnya.
Setelah itu saya berfikir, betapa sulit hidup yang harus dia hadapi. ujia yang harus dia alami dalam kondisinya yang seperti itu seharusnya menjadi motivasi bagi kita yang diberi nikmat kesehatan oleh Allah untuk senantiasa bersyukur. memang nikmat kesehatan ini begitu sering kita lalai untuk mensyukurinya. Rosulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)
Semoga kisah ini menjadi motivasi bagi kita untuk selalu menjadi orang yang bersyukur.

