PENCARIAN

02 Januari 2015

FATWA ULAMA SEPUTAR MAULID

Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk cinta kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Bahkan tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anak-anaknya, bahkan seluruh manusia. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia.” [HR. Bukhariy (15), dan Muslim (44)]

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu -hafizhahullah- berkata, “Hadits ini memberikan faedah kepada kita bahwasanya keimanan tidak akan sempurna hingga seseorang mencintai Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” [Lihat Minhajul Firqatun Najiyah (hal. 111)]

Setelah kita mengetahui hal ini, lalu bagaimana cara mencintai Nabi-Shollallahu ‘alaihi wasallam-? Cinta kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah dengan mengikuti syari’at beliau. Tidaklah dibenarkan bagi seseorang untuk mengada-adakan suatu perkara baru dalam syariat beliau, dengan anggapan hal tersebut bisa mendekatkan diri kepada Allah atau suatu bentuk kecintaan kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , atau itu adalah bid’ah hasanah. Padahal semua bid’ah dalam agama adalah sesat dan buruk !!

Di edisi kali ini, kami akan bawakan fatwa ulama besar berkenaan dengan perkara yang dianggap oleh sebagian orang merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, padahal perkara tersebut tidak ada dasarnya sama sekali dalam syari’at yang mulia ini dan bukan pula bentuk kecintaan kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yakni perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (mantan mufti di sebuah negeri Timur Tengah), ditanya tentang hukum perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .

Syaikh bin Baaz-rahimahullah- menjawab, “Tidaklah dibenarkan seorang merayakan hari lahir (maulid) Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan hari kelahiran lainnya, karena hal tersebut termasuk bid’ah yang baru diada-adakan dalam agama. Padahal sesungguhnya Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , para Khalifah Ar-Rasyidin dan selainnya dari kalangan sahabat tidak pernah melakukan perayaan tersebut dan tidak pula para tabi’in yang mengikuti mereka dalam kebaikan di zaman yang utama lagi terbaik. Mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah, paling sempurna cintanya kepada Nabi dan ittiba’-nya (keteladanannya) terhadap syariat beliau dibandingkan orang-orang setelah mereka.

Telah shahih (sebuah hadits) dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (2697) dan Muslim(1718)]

Beliau juga bersabda, “Wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah ar rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah ia kuat-kuat dan gigit dengan gigi geraham. Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena semua perkara baru itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” [Abu Dawud (4617), At-Tirmidziy (2676), dan Ibnu Majah (42). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shahih Al-Jami’ (2546)]

Jadi, dalam dua hadits yang mulia ini terdapat peringatan yang keras dari berbuat bid’ah dan mengamalkannya. Allah -Ta’ala- berfirman,

“Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya .” (QS. Al-Hasyr :7).

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS.An-Nur :63).

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.Al-Ahzab :21).

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS.Al-Maidah :3).

Membuat perkara baru -semacam maulid- ini akan memberikan sangkaan bahwa Allah -Ta’ala- belum menyempurnakan agama untuk umat ini, dan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- belum menyampaikan kepada umatnya apa yang pantas untuk mereka amalkan, sehingga datanglah orang-orang belakangan ini membuat-buat perkara baru dalam syariat Allah apa yang tidak diridhoi Allah, dengan sangkaan hal tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah. Padahal perkara ini –tanpa ada keraguan- adalah bahaya yang sangat besar, termasuk penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Padahal sungguh Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya; Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka dan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sungguh telah menyampaikan syariat ini dengan terang dan jelas. Beliau tidaklah meninggalkan suatu jalan yang bisa mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali beliau telah sampaikan kepada umatnya, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari sahabat Abdullah bin Amer -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِيْ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ, وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali wajib atasnya untuk menunjukkan kebaikan atas umatnya apa yang ia telah ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang ia ketahui bagi mereka.” [HR.Muslim dalam Shohih-nya (1844)]

Suatu hal yang dimaklumi bersama, Nabi kita -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah Nabi yang paling utama, penutup para nabi dan yang paling sempurna penyampaiannya dan nasihatnya. Andaikata perayaan maulid ini termasuk agama yang diridhoi Allah, niscaya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- akan jelaskan kepada umatnya atau pernah melaksanakannya atau setidaknya para sahabat pernah melakukannya. Akan tetapi, tatkala hal tersebut tidak pernah sama sekali mereka lakukan, maka diketahuilah hal tersebut bukanlah dari Islam sedikit pun juga, bahkan dia termasuk dari perkara-perkara baru yang telah diperingatkan bahayanya oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebagaimana dalam dua hadits yang tersebut di atas. Hadits-hadits lain yang semakna dengannya telah datang (dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-), seperti sabda beliau dalam khutbah jum’at:

أََمَّا بَعْدُ, فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, sejelek-jeleknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.” [HR.Muslim Shohih-nya (867)]

Demikian fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah-, Anda bisa lihat dalam kitab Majmu’ Fatawa As-Syaikhbin Baz (1/183), dan Al-Bida’ wal Muhdatsat (hal 619-621).

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz juga ditanya, “Apa hukum menyampaikan nasihat atau ceramah pada hari maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-?

Syaikh bin Baaz menjawab, ”Amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan bimbingan dan arahan kepada manusia, menjelaskan kepada mereka tentang agama mereka, dan memberikan nasihat kepada mereka dengan sesuatu yang bisa melembutkan hati mereka adalah perkara yang disyariatkan pada setiap waktu, karena adanya perintah untuk perkara tersebut datang secara mutlak, tanpa ada pengkhususan waktu tertentu.

Allah -Ta’ala-berfirman,

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS.Al-Maidah : 104).

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.An-Nahl :125).

Allah juga menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan sikap para da’i (penyeru) di antara mereka,

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri. Kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka dengan perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (QS. An-Nisa’: 61-63); dan ayat-ayat lain.

Jadi, Allah memerintahkan untuk berdakwah dan memberikan nasihat secara mutlak, tidak mengkhususkannya pada waktu tertentu. Sekalipun nasihat dan bimbingan ini semakin dianjurkan ketika ada tuntutan kepadanya, seperti khutbah Jum’at dan hari Ied, karena warid (datang)-nya hal tersebut dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .Demikian pula ketika melihat suatu kemungkaran, ini berdasarkan sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ, فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ, وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ, وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” [HR.Muslim (49)]

Adapun pada hari maulid, maka di dalamnya tidak boleh ada suatu pengkhususan dengan suatu ibadah tertentu yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya, adanya nasihat, bimbingan, pembacaan kisah maulid, karena Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak pernah mengkhususkan hal tersebut dengan perkara-perkara tersebut. Andaikan hal tersebut baik, niscaya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling pantas untuk (melakukan) hal tersebut. Akan tetapi nyatanya beliau tidak pernah melakukannya. Menunjukkan bahwa adanya pengkhususan-pengkhususan tersebut dengan ceramah, pembacaan kisah maulid atau selainnya termasuk perkara-perkara bid’ah. Telah shahih dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (2697) dan Muslim(1718)]

Demikian pula halnya para sahabat, mereka tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah dan paling bersemangat untuk mengamalkannya”. [Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (5591), dan Al-Bida’ wa Al-Muhdatsat wa ma laa Ashla lahu (628-630)]

Jadi, maulid bukanlah sarana syar’i dalam beribadah dan mencintai Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Tapi ia adalah ajaran baru yang disusupkan oleh para pelaku bid’ah dan kebatilan . Bid’ah perayaan hari lahir (ulang tahun) secara umum serta perayaan hari lahir Nabi-Shallallahu ‘alaihi wasallam- (maulid) secara khusus, tidak muncul, kecuali pada zaman Al-Ubaidiyyun padatahun 362 H.

Ulama’ bermadzhab Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (11/127) berkata, “Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang Yahudi yang memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya. Di antaranya perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-”.

Sumber: www.darussalaf.or.id

01 Januari 2015

Ibrah dari AirAsia QZ8501

Belum berapa lama negeri melayu ini di goncangkan oleh 2 berita yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar dan misteri, lenyapnya pesawat Malaysia Airlines MH370 pada tanggal 8 maret 2014 yang membawa 239 orang dari Kuala Lumpur, Malaysia menuju Beijing, China dan Kasus pesawat Malaysia Airlines MH17 tanggal 17 juli 2014 yang membawa 298 orang kesemuanya tewas setelah pesawat tersebut ditembak jatuh di kawasan timur Ukraina. Kini kita kembali tersentak kaget dengan berita ketiga tahun ini tentang lenyapnya pesawat AirAsia QZ8501 beberapa hari lalu yang membawa 162 orang di dalamnya dengan tujuan keberangkatan dari Surabaya Jawa Timur menuju Singapura. Pesawat tersebut hilang kontak setelah ia berada tepat di atas laut Jawa.

Banyak spekulasi dari para ahli yang beredar tentang sebab hilangnya pesawat tersebut, juga berita ditemukannya serpihan pesawat dan jenazah yang diduga kuat 95% dari QZ8501. Namun terlepas dari itu semua, seorang muslim sudah sewajarnya untuk memetik pelajaran berharga dari setiap kejadian dan peristiwa yang ia dengarkan. Lalu apa ibrah dan pelajaran dari semua kejadian di atas?

1. Pesawat terbang dan beberapa penemuan luar biasa seperti kapal selam, alat komunikasi jarak jauh, dll adalah salah satu bukti kemajuan teknologi selama beberapa dekade ini, yang membuktikan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan sains sepanjang sejarah kemanusiaan. Namun perlu dicamkan bahwa segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit ini memiliki batasan sebab tak ada yang sempurna selain Allah ta’ala, dan salah satu batasan yang takkan pernah terlampaui dan terbantahkan adalah kenyataan bahwa kita semua dan segala yang kita buat merupakan makhluk ciptaan Allah Yang Maha Menciptakan, Allah ‘azza wa jalla berfirman :

“Segala puji bagi Allah rabb semesta alam”.(QS Al fatihah : 2)

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”(QS Al baqarah 284)

Benar, Anda, Saya dan semua yang ada dilangit dan bumi adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Ia sanggup berbuat apapun yang Ia kehendaki sesuai dengan hikmah-Nya yang mulia. Ia memuliakan dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya, menghidupkan dan mematikan sesuai takdir yang telah Ia ciptakan, menunjuki hidayah dan menyesatkan hamba yang Ia inginkan, memberi manfaat dan mudhorat kepada siapapun yang Ia hendaki, semuanya berada dibawah kekuasaan Allah ta’ala. Maka jangan pernah bersikap sombong dan congkak, karena kita tak pernah keluar dari pengawasan Rabbul alamin. Jangan merasa hebat dengan segala pengetahuan dan ciptaan yang kita buat, sebab segalanya milik Allah, bahkan barang buatan manusia sekecil atau sebesar apapun(seperti pesawat, kapal selam, dsb) juga merupakan ciptaan Allah sebab Dialah yang memiliki segala ilmu pengetahuan, memberi pengetahuan kepada otak manusia, menuntun mereka untuk membuat berbagai macam barang untuk kepentingan ummat manusia. Jangan takabbur, anda selalu dibawah pengawasan Allah, baik anda di darat, laut atau di udara, sungguh bumi pijakan kita adalah kekuasaan Allah, laut adalah milik Allah, langit ini adalah langit Allah dan Ia Maha Kuasa untuk berbuat apapun.

Allah ta’ala berfirman :
Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”.(QS Ali ‘imran 26-27)

2. Bila telah sadar bahwa kita semua adalah ciptaan Allah, maka sadari pula bahwa setiap ciptaan Allah akan berjalan di atas takdir dan ketentuan-Nya. Jika takdir Allah untuk anda berada di barat dunia sedang anda berada di timurnya maka yakinlah anda pasti akan mendatangi takdir tersebut. Baik dengan pesawat, kapal laut, kendaraan darat ataupun berjalan kaki, bila ia adalah takdir anda, mau tak mau anda pasti bertemu dengannya bagaimanapun caranya. Meskipun perlu dicamkan bahwa hal ini bukan sebagaimana diyakini oleh firqah jabariyyah yang meyakini bahwa makhluk Allah “terpaksa” dalam setiap perbuatannya oleh takdir Allah dan manusia tidak memiliki kehendak dan keinginan, Tidak sekali lagi tidak!!!  Ahlussunnah wal jama’ah tidak menafikan adanya kemauan dan kehendak seorang hamba untuk berbuat apa yang diinginkannya(namun semua akan ada balasannya), dan kita juga tak menafikan ilmu Allah akan segala yang terjadi dan yang belum terjadi sebab demikianlah Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kita.

Imam Abu Ja’far at tohawy berkata dalam kitab beliau “al ‘aqidah at tohawiyyah” :
“Allah ta’ala menciptakan seluruh makhluk dengan ilmu-Nya, dan menetapkan bagi setiap mereka takdir dan ajal, tak ada sesuatupun dari perbuatan mereka yang tersembunyi dari ilmu Allah, baik sebelum atau sesudah mereka mengerjakannya, sedang Allah memerintahkan mereka untuk ta’at dan menghindari kemaksiyatan. Segala sesuatu berjalan atas takdir Allah dan kehendak-Nya, dan setiap kehendak hamba-Nya adalah apa yang Allah kehendaki bagi mereka…”

3. Selalu menyadari bahwa kita adalah makhluk Allah dan akan selalu berjalan di atas takdir dan ketentuan Allah, maka seyogyanya bagi kita untuk terus berusaha berada dalam keridhoan Allah disetiap kesempatan yang kita miliki, agar ketika Allah ta’ala menguji kita dengan takdir yang baik atau buruk(dalam pandangan kita) maka kita selalu siap dengan apapun itu. Adapun ridho Allah, maka Allah telah berfirman :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.(QS Al bayyinah 7-8)

Karenanya, perhatikanlah hal-hal berikut :
a. Perbaikilah hubungan kita kepada Allah, dengan menyembah-Nya dan memurnikan ibadah serta tauhid kita kepada Allah. Allah berfirman tentang kewajiban setiap manusia :
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
Artinya : “Dan Aku tak ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah”.(QS Ad dzariyaat 56)

Allah juga berfirman : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(QS Al bayyinah 5)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya tentang orang yang paling berbahagia karena syafaatnya, maka beliau bersabda “ialah orang yang bersaksi dari dalam hatinya bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah secara benar kecuali Allah”.(HR Bukhari 99)

b. Berbaik sangkalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta pada setiap takdir dan apapun yang terjadi pada kehidupan kita. Tak ada yang buruk dan salah dari ketetapan Allah pada hamba-Nya, justru keburukan itu datang bila seorang hamba berburuk sangka kepada Allah.
Allah berfirman dalam hadits qudsi : “Aku(Allah) sebagaimana persangkaan hamba kepada-Ku”.(HR Ibnu hibban 641)

c. Beriman dan beramal kebajikan lalu istiqomah diatasnya dalam setiap kesempatan yang Allah berikan pada kita. Ibnu umar radiyallahu anhuma pernah berkata “bila engkau berada pada sore hari maka jangan tunggu pagi, dan bila berada pada pagi hari maka jangan tunggu sore untuk beramal, manfaatkan masa sehat sebelum datang sakit, dan manfaatkan hidupmu sebelum datang kematianmu”.
Artinya manfaatkan selalu kesempatan yang ada saat ini untuk berbuat dan jangan tunggu sampai kesibukan datang hingga kita tak bisa lagi berbuat.

Karenanya, kapanpun bila Allah menakdirkan kita bertemu ajal maka kita telah berada pada kebaikan dan keridhoan Allah subhanahu wa ta’a yang mengantarkan kita pada syurga-Nya yang abadi, insya Allah.

Oleh : Abu ‘Aqilah Altofunnisa. Lc

Sumber: http://www.wahdah.or.id

BACA JUGA

HUKUM MINTA RUQYAH DAN APAKAH RUQYAH MANDIRI LEBIH AFDHAL?

  Banyak bahasan yang perlu diketahui dalam perkara ruqyah Syar'iyyah. Terutama seorang praktisi Ruqyah Syar'iyyah sangat perlu unt...